Budaya Sumba

Selayang Pandang Budaya Sumba

 

Sumba bukan sebuah etnis yang budayanya tunggal. Meski Sumba tergolong pulau kecil, dan memiliki kemiripan dalam banyak hal, juga banyak perbedaan dan varian dalam aspek lainnya. Keragaman yang cukup menonjol adalah sub etnis, bahasa, dan struktur sosial.

 

Perbedaan Menonjol

 

Di Kabupaten Sumba Barat Daya terdapat sub etnis Wewewa, Kodi dan Loura. Di Sumba Barat, terdapat etnis Loli, Wanukaka, Lamboya dan Tanarighu. Selanjutnya di kabupaten Sumba Tengah terdapat sub etnis Mamboro, Anakalang, Umbu Ratung Nggay. Sedangkan di Sumba Timur sub etnisnya relatif mirip, namun antara sub etnis satu dengan yang lain selalu memiliki varian.

 

Keragaman sub etnis berimplikasi pada keragaman bahasa. Dalam satu sub etnis pun terkadang ditemukan varian-varian kecil bahasa, terutama pada komunitas yang hidup di wilayah perbatasan antar etnis.

 

Terkait struktur sosial, etnis Sumba dapat dipilah dalam dua kategori. Kategori pertama adalah bagian barat Sumba yang mencakup Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Kedua wilayah ini memilik struktur sosial yang relatif egaliter dimana tidak tampak perbedaan kelas sosial. Kategori kedua, yang mencakup Sumba Tengah dan Sumba Timur, masih ada perbedaan kelas sosial, meskipun tidak cukup kelihatan dalam interaksi sosial saat ini.

 

Kesamaan atau Kemiripan

 

Kesamaan dan kemiripan budaya dalam masyarakat Sumba, secara umum dapat dilihat dari cara berbusana, arsitektur rumah, bentuk perkampungan, kawin mawin, upacara adat dan kepercayaan asli Marapu. Namun perlu diketahui bahwa hampir selalu ada varian atau ciri khas antara satu sub etnis/tempat dengan sub etnis/tempat yang lain.

 

Kepercayaan asli  Marapu

 

Tak lengkap rasanya mengetahui budaya Sumba tanpa mengenal Marapu, yakni kepercayaan asli orang Sumba. Marapu tak pernah menyebut Tuhan (atau sebutan lain) secara langsung, tetapi diungkapkan dengan kiasan. Misalnya menyebut Tuhan sebagai yang bertelinga lebar dan bermata besar.

 

Dalam beberapa hal, Marapu memiliki kesamaaan (sekurang-kurangnya kemiripan) dengan agama moderen, dimana Marapu juga mengakui adanya kekuasaan supra natural, sebuah kekuasaan tak kelihatan tetapi mengatasi segala hal dan mengatur kehidupan ini.

 

Budaya Pesta, Belis dan Acara Penguburan

 

Budaya pesta dengan penyembelihan ternak besar dalam jumlah banyak adalah tradisi turun temurun di seluruh wilayah di Sumba. Bahkan di beberapa wilayah Sumba, pesta adat akan menjamur pada bulan-bulan tertentu, biasanya setelah panen.

 

Di era saat ini pun, dimana populasi ternak jauh menurun, tradisi ini masih banyak dilakukan. Tradisi ini, diakui atau tidak, telah menyedot sumberdaya dan aset orang Sumba, yang pada gilirannya menyebabkan kemiskinan yang luas.

 

Hal terakhir ini juga terkait dengan tradisi kawin mawin yakni belis atau mahar perkawinan, dimana pihak laki-laki memberikan mahar berupa ternak (kerbau dan kuda) kepada pihak perempuan. Populasi ternak yang jauh menurun saat ini menyebabkan harganya begitu mahal. Implikasinya, pihak laki-laki harus menyediakan ternak yang akumulasinya mencapai ratusan juta rupiah.

 

Selain untuk acara pesta adat dan pembelisan, orang Sumba membawa ternak saat keluarga meninggal. Dan di akhir acara penguburan, ada tradisi sejumlah pemotongan ternak, yang dagingnya dibagikan kepada undangan yang hadir.

 

Batu Kubur Megalit

 

Keunikan budaya Sumba lainnya adalah batu kubur megalit, khususnya di wilayah Sumba Tengah dan Sumba Timur.Bagi keluarga bangsawan dan keturunan raja, sebelum ajal, mereka telah menyiapkan batu kubur megalit, yang diangkut ke perkampungan dengan ritual khusus yang dinamakan tarik batu kubur. Saat ini tradisi ini sudah langka, karena dibutuhkan biaya yang sangat besar dan waktu yang panjang untuk menjalankan ritual ini.

 

Seni Tradisional

 

Di bidang seni, beberapa sub etnis di Sumba memiliki aneka tarian, yang kebanyakan menjadi bagian dari ritual Marapu dan pesta adat dengan macam-macam intensi. Banyak juga seni pahat, yang biasanya ditemukan pada batu kubur dan tiang-tiang rumah adat.

 

Di Sumba, banyak juga ditemukan nyanyian lokal yang dikomposisikan dengan tarian. Bentuk lainnya adalah nyanyian dipakai sebagai cara bercerita, yang biasa dilakukan dalam ritual tertentu seperti saiso pada sub etnis Wewewa. Ada pula nyanyian lokal yang dinyanyikan berbalas-balasan antara dua kubu saat menanam padi. Namun tradisi ini kian jarang dilakukan.

 

Yang juga unik, dan mungkin ‘menyeramkan’ adalah penggunaan tanduk kerbau untuk tangga rumah dan pemajangan rahang babi dengan cara menggantungnya secara berjejer di bawah atap di teras rumah dalam area perkampungan.

 

Arsitektur Rumah

 

Rumah asli orang Sumba berlantai panggung dan beratap joglo. Bedanya dengan atap joglo rumah di Jawa adalah atap menara rumah Sumba dibentuk menjulang tinggi dan pada dua titik simpul pertemuan atap pada ujung atas menara diberi semacam ‘tanduk’.

 

Struktur rumah Sumba terdiri atas 3 tingkat. Tingkat pertama berfungsi sebagai ruang ternak (di bawah lantai panggung), lalu di tengahnya untuk aktivitas manusia dan pada tingkat ketiga (bagian atas atau menara) untuk arwah leluhur.

 

Keunikan lain adalah bahan atap rumah Sumba adalah ilalang yang tumbuh di padang atau kebun. Jenis atap alami ini cukup nyaman karena berfungsi menetralisir suhu. Namun saat ini atap jenis ini semakin jarang digunakan, kecuali untuk rumah adat di perkampungan. Bahan ilalang ini pun semakin sulit didapatkan.

 

Masih banyak keunikan dan kekayaan budaya Sumba yang menarik untuk dijajal. Jika Anda berminat, tentu akan lebih baik jika Anda mengunjungi Sumba untuk melihat secara langsung, merasakan aromanya. Dan yakinlah, Anda akan menemukan petualangan budaya yang tak pernah Anda bayangkan sebelumnya.