Ritual Tauna Usu Manu

Upacara ritual tauna usu manua merupakan upacara pemberian makan marapu setiap tahun, yang bertujuan untuk membersihkan dosa dosa, membersihkan wabah penyakit maupun roh roh jahat dari kampung dan memohon kesuksesan panen. Upacara ini hares dijalankan dahulu oleh kampung wawarongu, baru diikuti oleh kampung yang lain.
ALAMAT

Kampung Wawarongu, Desa Wendewa Barat, Kecamatan Mamboro. Kampung ini berjarak sekitar 38 km dari Waibakul.

MENGENAI Ritual Tauna Usu Manu

Upacara ini berupa pemberian makan Marapu setiap tahun dengan intensi pembersihan dosa, wabah penyakit maupun roh roh jahat dari kampung dan permohonan kesuksesan panen. Ritual ini dijalankan dahulu oleh Kampung Wawarongu, baru diikuti oleh kampung lain.

Ritual adat ini berlangsung selama 7 malam 8 hari. Hari dan malam pertama dibuka dengan tari-tarian Weru-weru, lalu diikuti tarian Yoma Langu dan Aruleti. Tarian Yoma Langu dan Aruleti dibawakan oleh seorang pria (mabokul) yang dikelilingi oleh para wanita. Di dalam lingkaran itu terdapat sebuah batu yang di atasnya diletakkan sebuah piring berisi sajian untuk Marapu yang bertujuan untuk meminta berkat.

Ketika tarian berlangsung, seorang Ratu (Mabokul) akan bersyair dalam bahasa adat (Tauna Li) dan dijawab dalam bahasa adat yang sama oleh Ratu yang lain. Sahut sahutan dalam bahasa adat ini dilakukan sampai malam ke -7. Syair adat yang dilagukan biasanya menceritakan tentang leluhur yang disembah atau Marapu.

Pada siang hari, di setiap rumah terdapat 2 laki laki yang menumbuk padi untuk makanan Marapu. Setelah nasinya masak, mereka menaruhnya di piring bersama seekor ayam jantan merah dan membawanya ke rumah Marapu. Prosesi ini hanya dilakukan pada hari ke-8 atau hari puncak. Pada hari-hari sebelumya prosesi ini hanya dilakukan di rumah masing-masing.

Sebelum memasuki rumah Marapu, mereka berkeliling 8 kali sebelum masuk. Setelah masuk, mereka menyembah satu per satu dan kemudian keluar untuk memotong ayam. Sebelum dipotong, seorang Ratu meletakkan parang keramat (pasari) pada leher seekor ayam sebagai pertanda dimulainya pemotongan ayam dan kerbau yang sudah disiapkan.

Tidak diperkenankan mengeluarkan suara selama proses pemotongan. Setelah dipotong, setiap pemilik ayam membawa hati ayam dan hati kerbau kepada Ratu untuk dilihat, apakah panen tahun depan sukses atau tidak. Lalu, hati ayam dan kerbau dibakar dan diletakkan diatas piring dan dibawa kembali ke rumah Marapu.

Sebelum memasuki rumah Marapu, mereka harus mengelilingi rumah Marapu sebanyak 8 kali sambil bernyanyi dalam bahasa adat (yoyela). Setelah melakukan prosesi persembahan di rumah Marapu, mereka melanjutkan acara lain yaitu Sima Lodu, yakni prosesi penikaman babi yang disimbolkan dengan pemotongan sebuah Labu Putih. Labu putih ini diiris kecil, yang nantinya akan diperebutkan oleh warga kampung untuk dijadikan makanan babi. Warga meyakini bahwa babi yang diberi makan labu putih itu akan terhindar dari penyakit.

Prosesi pengusiran wabah penyakit dan roh-roh jahat dari kampung dimulai dengan dipikulnya sebuah keranjang yang berisi irisan labu putih, abu dapur dan tempurung kelapa oleh 2 orang anak. Keranjang tersebut dibawa lari keluar kampung diiringi teriakan-teriakan warga kampung sambil memukul-mukul dinding rumah yang merupakan simbol diusirnya segala wabah penyakit dan roh-roh jahat dari kampung. Setelah prosesi ini, setiap pelaku upacara maupun penonton diwajibkan memakai seutas benang hitam di tangan atau kaki untuk mendapat berkat dan perlindungan.

GUIDE