Sekelumit tentang Perkawinan Adat Sumba

Wednesday, 20 March 2019 | SHF

TAGS : CULTURE

Sekelumit tentang Perkawinan Adat Sumba

Dalam masyarakat komunal seperti di Sumba, perkawinan bukan sekedar pembentukan keluarga baru tapi merupakan penyatuan keluarga besar. Perkawinan dalam masyarakat Sumba Barat dan Sumba Barat Daya dapat dikategorikan sebagai perkawinan eksogami yaitu perkawinan di luar suku, artinya dilarang adanya perkawinan satu suku.

Di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, klan penerima gadis (A) disebut doma sedangkan klan pemberi gadis (B) disebut loka. Sistem perkawinan di kedua wilayah ini mengharuskan paling sedikit keterlibatan tiga kabisu (marga).

Jika kabisu A adalah klan pemberi gadis, dia tidak boleh menjadi klan penerima gadis, namun kabisu A harus menerima gadis dari kabisu di luar B. Jadi, misalkan ada 3 kabisu maka yang dibolehkan adalah kabisu A dapat menjadi pemberi gadis untuk kabisu B, Kabisu B dapat menjadi pemberi gadis untuk kabisu C dan kabisu C dapat menjadi pemberi gadis untuk kabisu A.

Karena itu, kalau kabisu A adalah pemberi gadis kepada kabisu B maka kabisu A tidak boleh menerima gadis dari kabisu B. Dengan kata lain tidak boleh terjadi saling bertukar peran diantara kabisu pemberi dan penerima gadis.

Pernikahan dengan sesama anggota kabisu juga dilarang keras, bahkan dianggap sebagai perilaku incest yang bisa mendatangkan malapetaka, yang hanya bisa dipulihkan melalui upacara pemujaan. Pelanggaran-pelanggaran yang lain misalnya perselingkuhan atau hubungan luar nikah (dengan anggota kabisu yang masuk kategori boleh menikah) biasanya diselesaikan dengan denda (kanyala).

Karena dianggap sebagai penerus garis darah yang hanya mengalir lewat perempuan, kedudukan loka selalu lebih tinggi dari doma. Sehingga pihak loka berwenang menentukan besarnya mas kawin (belis) yang harus diberikan pihak laki-laki.

Jenis dan Jumlah Belis

Belis bukan hanya tanggungan pihak laki-laki, karena pihak perempuan juga harus menyediakan balasannya. Belis dari pihak laki-laki berupa kerbau, kuda, parang,tombak, serta mamoli (perhiasan sebagai anting-anting). Mamoli berbentuk rahim (simbol kemampuan reproduksi wanita), dan diberikan sebagai simbol pengganti wanita yang akan dibawa pergi.

Sementara itu, balasan dari pihak perempuan adalah babi dan kain tenun. Jumlah belis tergantung kesepakatan dan status sosial seseorang, terutama pengantin wanitanya. Tidak aturan baku tentang jumlah belis. Ada keluarga tertentu yang menetapkan jumlah belis mengacu pada pembelisan ibunya. Misalnya, dulunya ibunya dibelis 30 ekor maka anak perempuannya juga dibelis dengan jumlah yang sama.

Saat ini, ketika populasi ternak semakin menurun, banyak praktek dimana belis ternak dikonversi dengan uang (yang disebut belis amplop). Misalnya, keluarga A memberikan belis 20 ekor kerbau. Jika 1 ekor kerbau setara nilainya dengan Rp. 5 juta maka keluarga A dapat membawa 10 ekor kerbau (benaran) dan menyerahkan 10 amplop yang bernilai masing-masing 5 juta rupiah (belis amplop). Pola seperti ini juga harus dibicarakan dan disepakati kedua belah pihak, yang difasilitasi oleh juru bicara, atau yang disebut sebagai ata panewe atau wunang.

Kerapkali orang luar menganggap pembelisan orang Sumba sebagai transaksi bisnis dengan perempuan sebagai obyek. Tetapi bertolak belakang dengan anggapan itu, orang Sumba melihat belis sebagai penghargaan terhadap wanita. Wanita dianggap sangat berharga dan berperan penting bagi keluarga dan keberlanjutan generasi berikutnya.

Karena itu, keluarga pihak perempuan akan berusaha agar pihak laki-laki memberikan apresiasi yang tinggi dengan menyediakan sejumlah belis yang akan menjadi ukuran seberapa besar nilai untuk anak perempuan mereka, sekaligus mengangkat harkat keluarga pihak perempuan.

Sebaliknya, keluarga pihak perempuan akan menunjukan betapa berharga anaknya dengan menyediakan sejumlah hadiah balasan untuk mengiringi kepindahan anaknya, yang nilainya sama dengan pemberian pihak laki-laki. Tanpa balasan yang setimpal, anak perempuannya akan diremehkan oleh keluarga suaminya.  Dan keluarga perempuan tidak menginginkan itu terjadi.

Pembayaran belis pun jarang dilakukan sekaligus. Sebagian diberikan saat pindah rumah, sebagian lagi diberikan bertahap sesuai kebutuhan keluarga istri, misalnya untuk pesta, kematian atau kebutuhan lain.

Jarang terjadi sebuah keluarga mampu memenuhi belis berjumlah besar dengan usaha sendiri. Lebih sering hewan-hewan ini disumbangkan oleh keluarga atau kerabat yang lain. Tetapi sumbangkan itu tidak secara gratis, melainkan akan diganti ketika penyumbang membutuhkan.

Tahapan Pembelisan

Di Sumba Barat, thapan perkawinan umumnya sebagai berikut. Pertama, Ngidi Pamama. Ini adalah tahap lamaran dimana pihak laki-laki datang ke kediaman pihak perempuan untuk melamar dengan membawa sirih-pinang dan satu ekor kuda.

 Jika diterima, pihak perempuan memberikan sepasang kain tenun dan seekor babi (yang disembelih saat itu juga) sebagai tanda persetujuan. Pada tahap ini kedua belah pihak menyepakati langkah berikut dan tanggal pertemuan selanjutnya.

Kedua, Weri Kawedo. Pada tahap ini pihak laki-laki datang ke kediaman pihak perempuan dengan membawa setidaknya 1 sampai 5 ekor kerbau dan satu ekor kuda jantan. Maksud kedatangannya adalah membahas jumlah belis. Pada tahap ini, masing-masing pihak menggunakan juru bicara, yang disebut ata panewe atau wunang.

Permintaan akan belis dinyatakan secara simbolis lewat kain tenun yang diletakkan di atas tempat sirih pinang lalu disajikan di depan wunang. Proses negosiasi bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan ada yang sampai tengah malam. Jika kesepakatan dicapai, pihak wanita memberikan satu ekor babi yang dibunuh saat itu juga, lalu dagingnya dibagikan sebagai tanda kesepakatan.

Ketiga, Dutu Mawinne.Ini adalah tahap pemindahan perempuan ke rumah keluarga laki-laki. Dutu mawine bisa dilaksanakan bersamaan dengan weri kawedo jika pada saat itu belis dibayar lunas. Pihak laki-laki membawa sejumlah belis yang telah disepakati berupa kerbau, kuda, parang, tombak serta mamoli emas, dan pihak perempuan membalasnya dengan memberikan babi dan kain tenun, yang nilainya setimpal dengan pemberian pihak laki-laki.

Mamoli emas akan diserahkan oleh ibu mempelai laki-laki kepada ibu mempelai wanita. Mamoli ini disitilahkan sebagai watu mata (biji mata) yang melambangkan penghargaan terhadap usaha keras sang ibu dalam membesarkan anak perempuannya yang akan dibawa pergi.

Selanjutnya, ayah sang gadis memberikan sepasang kain tenun kepada pengantin laki-laki sebagai simbol bahwa ia telah diterima sebagai menantu, dan harus dibalas sang menantu baru dengan memberikan satu batang tombak. Pengantin wanita dihantar ke kediaman suaminya dengan sejumlah besar rombongan pengiring.

Demikian sekelumit tentang tradisi kawin mawin di Sumba. Apa yang kami sajikan di atas tidak mendetail dan masih banyak hal yang tidak disampaikan. Jika Anda berminat, akan lebih baik jika Anda berkunjung ke Sumba untuk mempelajarinya. Perlu kami sampaikan bahwa Anda mungkin akan menemukan versi yang beda atau varian dari sumber atau pihak lain.

POPULAR SUMBA STORIES