Tarik Batu Kubur (Waura Watu) di Sumba Tengah

Wednesday, 20 March 2019 | SHF

TAGS : NATURE

Tarik Batu Kubur (Waura Watu) di Sumba Tengah

Masyarakat Sumba Tengah mengenal upacara tarik batu kubur sebagai bagian dari tradisi menghormati leluhur di sumba tengah, obyek megalitik yang ditarik adalah lempengan batu yang merupakan tempat bersemayam abadi jasad leluhur.

Bahan batu diperoleh dengan cara penggalian di tempat tertentu yang memang kaya akan berbagai jenis batuan. Setelah menemukan sumber batuan yang tepat, beberapa pekerja akan menata dan memahat batu tersebut di tempat asal batu sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

Di Sumba Tengah terdapat beberapa wilayah sebagai lokasi pengambilan Batu untuk digunakan sebagai makam, di Maderi dan Kapalas (Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat) dan di Desa Wailawa (Kecamatan Katiku Tana Selatan).

Pemahatan sebuah batu bisa berbulan-bulan sampai membentuk batu kubur yang indah. Lamanya pengerjaan memahat tergantung besar kecilnya ukuran dan pola hiasnya. Setelah pembuatannya selesai, selanjutnya adalah penarikan batu menuju rumah pemilik kubur.

Prosesi penarikan batu kubur dari tempat asal menuju lokasi baru merupakan fenomena yang sangat menarik. Ratusan atau bahkan ribuan orang bekerja secara gotong royong menarik batu yarg beratnya bisa mencapai puluhan ton.

Mereka bekerja tanpa imbalan uang, namun penyelenggara wajib menyediakan makanan dan  hadiah daging bagi para penarik batu. Upacara tarik batu memerlukan persiapan matang karena obyek yang ditarik adalah batu kubur yang berukuran besar dan sangat berat.

Persiapan dan Prosesi Tarik Batu

Di lokasi asal batu, beberapa tukang kayu (moni pelu) membuat kuda-kuda (Tena) berupa dua gelondong kayu. Dua ujung kayu disatukan dan dibentuk menyerupai kepala kuda ataupun Tena berbentuk kepala kuda. Secara simbolis Tena melambangkan perahu sebagai kendaraan yang akan membawa batu kubur.

Di atas Tena diberi kerangka kayu berbentuk empat persegi panjang mengelilingi batu, sebagai tempat pegangan paaung watu dan meletakkan panji dan bendera.Panji adalah bentangan kain berwarna putih, sedangkan bendera berupa kain-kain tenun motif asli Sumba Tengah. Panji dan bendera bermakna ‘memayungi’ kubur agar selalu dingin dan teduh.

Sesaat sebelum acara tarik batu dimulai, pemimpin prosesi tarik batu (paaung watu), memberikan santan kelapa (wai malala) yang dipercikkan ke batu sebagai simbol penyucian batu agar batu lebih mudah ditarik.

Di atas batu juga disiapkan gong (katala) dan beduk (laba) untuk menyamangati para penarik batu. Saat penarikan batu, sebagai alas digunakan balok- balok kayu bulat yang berfungsi sebagai roda. Kayu kayu bulat diletakkan di sepanjang jalan yang akan dilalui batu. Alas kayu itu akan diambil dan dipasang kembali di depan hingga batu mencapai tujuan.

Tali untuk menarik batu umumnya terdiri dari 10 buah dengan tiga jenis bahan yakni tali plastik (tambang), tali cari suluh pohon tuba (tuwa) dan rotan (uwi). Masing-masing tali ditarik oleh 50-100 orang. Apabila dihitung seluruhnya, sebuah upacara tarik batu besar diikuti oleh setidaknya seribu orang.

Paaung watu adalah pemimpin yang berperan sangat penting bagi suksesnya upacara tarik batu. Dia harus memiliki kemampuan untuk mengatur dan memberi semangat kepada massa penarik batu yang jumlahnya ribuan.

Peran paaungu watu sangat dominan, karena bertugas mengatur jalannya upacara sambil meneriakkan kata hutaya (pemberi semangat). Terkadang untuk membangkitkan tenaga, dia meneriakkan ejekan seperti mangomamine (perempuan kamu!), yang dijawab spontan oleh massa sambil mengerahkan segenap tenaganya dengan berteriak monima (kami laki-lakil!).

Tidak selamanya proses tarik batu berjalan mulus.Jika massa tidak cepat diarahkan, arah batu dapat melenceng, bahkan bisa miring atau terbalik. Belum lagi halangan lain berupa rusaknya Tena atau kayu palang karena tidak kuat menahan beban.

Jika ada kendala berat maka tarik batu ditunda. Ini sangat merepotkan karena sulit sekali mengumpulkan ratusan sampai ribuan orang dalam hari yang sama. Jika prosesnya lancar, sebuah batu kubur 12 ton dapat ditarik seribu orang selama tujuh jam dengan jarak 2,2 km.

Acara Setelah Batu Tiba

Setelah batu kubur tiba di rumah sang pemilik, acara selanjutnya adalah penerimaan sumbangan hewan dari kerabat berupa kerbau dan babi. Jika kerbau dan babi yang disumbangkan jantan, maka para penerima tamu akan membunyikan alat musik bertalu-talu. Sebaliknya jika betina, alat musik tidak dibunyikan.

Setelah dilakukan pencatatan terhadap semua sumbangan yang diterima, acara berikutnya pembagian daging kepada seluruh masyarakat yang telah bekerja. Makna pemberian daging adalah membersihkan tangan yang luka karena menarik batu. Ini adalah bentuk ungkapan terima kasih penyelenggara kepada orang-orang yang telah membantu.

Pemilik acara juga wajib menyediakan makanan untuk penarik batu dan tamu.Menu utama adalah nasi dan daging babi atau kerbau. Pada umumnya, saat ditarik, batu kubur belum diberi lubang jenazah dan belum dipasang kakinya jika kuburnya berbentuk watu pawihi.

Lubang jenazah baru akan dibuat beberapa bulan setelah acara tarik batu selesai. Biasanya pada saat itu sekaligus didirikan kaki-kaki batu untuk menyangga kubur utama. Selanjutnya adalah memberikan hiasan berupa ornamen (kadu watu) dan memahatnya.

Filosofi  dan Status Sosial Tarik Batu

Bagi orang Sumba Tengah, menyiapkan batu kubur sebagai tempat peristirahatan terakhir merupakan satu kebutuhan. Sungguh merupakan satu kebahagiaan yang sempurna, jika saat hidupnya, ia dapat melihat secara langsung pembuatan makamnya.

Sebuah batu kubur yang megah dipercayai menjadi kendaraan si mati ke dunia yang kekal. Melihat sebuah kubur yang kelak menjadi tempat peristerahatannya mendatangkan rasa nyaman dan prestise tersendiri, terlebih jika kubur tersebut berukuran megalit.

Upacara tarik batu di Sumba Tengah menaikkan status sosial si mati. Selain itu, penyelenggara acara hampir pasti merupakan tokoh yang disegani atau dihormati di daerahnya, sehingga dapat mengumpulkan ratusan bahkan ribuan orang untuk terlibat.

Terdapat dua sisi yang cukup signifikan dalam setiap upacara tarik batu tersebut. Selain sebagai status sosial sang penyelenggara, upacara tersebut juga merupakan dharma dan  dedikasi mereka kepada leluhur. Setiap warga bergotong-royong dalam kegiatan ini.

Warga lokal meyakini, dengan melakukan hal ini, mereka akan memperoleh ketentraman dan berkat dari leluhurnya. Upacara ini berbiaya sangat besar, karena itu hanya dapat dilakukan oleh orang kaya. Semakin megah upacaranya, makin tinggi status sosial yang akan diterima.

POPULAR SUMBA STORIES