Wona Kaka, Gua Rambe Manu dan Tipu Daya Belanda

Wednesday, 20 March 2019 | SHF

TAGS : NATURE

Wona Kaka, Gua Rambe Manu dan Tipu Daya Belanda

Wona Kaka adalah seorang patriot Sumba yang melawan Belanda dengan gagah berani. Memang Wona Kaka belum mendapat pengakuan resmi terkait kepahlawanannya, namun kisah heroiknya telah tersohor di Sumba, khususnya di wilayah Kodi.

Rambe Manu adalah sebuah gua di Desa Mangganipi (Kecamatan Kodi, sekitar 25 km dari Tambolaka) yang menjadi benteng pertahanan Wona Kaka saat bertempur melawan Belanda. Benteng ini sudah ditetapkan oleh Pemda Sumba Barat Daya sebagai situs bersejarah.

Berikut ringkasan kisah kepahlawanan Wona Kaka melawan kolonial Belanda yang diolah dari berbagai sumber.

Pemicu Pecahnya Perang

Meskipun Belanda sudah lama menduduki Pulau Sumba, namun pasukannya baru memasuki Kodi tahun 1905. Sejak Belanda menduduki Kodi (1905-1910), rakyat Kodi mengalami penderitaan lahir batin. Inilah yang memicu perlawanan rakyat Kodi pada tahun 1911.

Faktor pemicunya adalah pemecahan Kerajaan Kodi secara sewenang-wenang, pajak yang sangat berat, perampasan harta milik rakyat, kerja rodi, penyiksaan terhadap bangsawan Kodi, perlakuan kasar dan penghinaan terhadap Raja Kodi dan pemerkosaan dua perempuan Kodi.

Perang melawan Belanda dicanangkan melalui masyawarah adat di Parona Tohikyo, tempat kedudukan Raja Kodi, yang menyepakati pembentukan pasukan perang dan Wonakaka diangkat sebagai panglima perang. Hebatnya, terdapat sejumlah patriot perempuan menjadi anggota pasukan..

Pasukan rakyat Kodi tersebut memakai alat perang tradisional berupa tombak, tamian runcing, pedang, parang, kayu kudung, ali-ali, sumpit dan perisai kulit kerbau. Mereka menggunakan azimat leluhur sebagai perisai tersembunyi atau obat kebal.

Perang Terbuka dan Gerilya  

Selama masa perang yang berlangsung dari 1911 sampai 1913, pasukan rakyat Kodi, menerapkan strategi perang terbuka dan gerilya.Selepas pertempuran kedua, Raja Kodi ditangkap melalui siasat licik perjanjian damai dari Belanda. Perang selanjutnya diambil alih oleh Wona Kaka.

Setelah merubah strateginya dari perang terbuka ke gerilya, Wona Kaka membuat Belanda kalang kabut. Tidak hanya efektif, strategi gerilya berhasil mengobarkan perlawanan rakyat hingga meluas ke suku Loura dan Wewewa.

Banyak anggota pasukannya tewas, markas dan logistiknya hancur, biaya operasi militer membengkak serta meluasnya perlawanan rakyat se-Sumba membuat Belanda cemas. Sebetulnya Belanda tidak mampu bertahan lagi, jika tidak ada konspirasi antara segelintir orang Kodi dengan Belanda demi ambisi tahta kerajaan.

Di pihak rakyat Kodipun banyak mengalami kerugian besar. Rajanya meninggal secara tidak terhormat setelah ditawan, banyak pasukan yang tewas (termasuk isteri Wona Kaka) dan kelaparan hebat akibat blokade ekonomi Belanda. Kondisi terakhir inilah yang meluluhkan hati Wona Kaka untuk menerima tawaran perdamaian dari Belanda.

Tipu Daya Penangkapan Wona Kaka

Tipu daya Belanda kembali terulang. Perjanjian damai di Parona Lamete (Bondo Kodi) tahun 1913 berubah menjadi penangkapan Wona Kaka dan 68 anggota pasukannya. Mereka diangkut dengan kapal laut untuk ditawan di Kupang, lalu dibawa ke Surabaya dan selanjutnya dipisah-pisahkan. Ada juga yang bergabung dengan pasukan Belanda (Marcuse) ketika melawan Aceh.

Wona Kaka dibuang ke Nusa Kambangan, lalu dipindahkan ke Sawah Lunto, Sumatera Barat. Di sana Wona Kaka dipekerjakan pada perusahaan tambang batu bara milik Belanda. Di tempat ini, sekitar tahun 1933, Wona Kaka dan para pekerja lainnya meninggal dunia, terkubur di dalam terowongan tambang yang longsor akibat banjir. Jika Anda berminat melihat situs ini dan mendengarkan kisah kepahlawanan Wona Kaka, anda dapat menghubungi penjaga situs ini, Daniel Kaka. Anda dapat menjumpai destinasi ini dengan mini bus/mikrolet sampai Mangganipi, lalu menyewa  ojek ke Gua Rambe Manu.

POPULAR SUMBA STORIES