Tags: Kampung Adat Wee Lewo

Pasola

Pasola begins after the Rato Nyale set an implementation date based on their reading of natural phenomena, namely the position of the moon or the sign of the appearance of a full moon (the result of the meditations of Rato Nyale according to Marapu’s beliefs).

In the early hours of the morning before the start of Pasola, the community goes to the beach to pick up the Nyale (sea worm that appeared on the beach) as a Pasola procession.

After a number of traditional rituals are carried out by Rato Nyale, the Pasola participants gather at the Pasola arena to form two front-facing camps waiting for Rato to enter the center of the field to draw a horse as a sign Pasola begin.

Determination of the date of the Pasola is carried out at the end of January by the Rato Nyale without the intervention of any party so that it is purely in accordance with the prevailing local customs and authenticity.

Toda Village

Toda village was founded by RatoModo; a few days later, he built a tower called Umma ToghiAlli as a temporary storage place for saced items such as spears, sculptures, and knives.

Afterwards, he built a small cottage called Umma Kahilaas a permanent storage for sacred items. When construction of Umma Kahilla was completed, Rato Moto held a party called Woleka by slaughtering a male buffalo, one wild boar, and seven chickens for the complete transfer of the sacred items.

Since then, RatoModo’s party continues to be carried out today by the local community which still uses Umma Kahilla as a place to store the community’s sacred items including RatoModo’s belongings.

These items must be washed at certain times during traditional ceremonies or festivities which are likely to have been done by RatoModo himself. This village has 22 traditional houses and 89 old original tomb stones. 

Kampung Adat Tarung

Kampung adat ini merupakan salah satu kampung tertua di wilayah Sumba Barat. Terdapat 100 rumah menara yang dihuni oleh kurang lebih 400 warga di kampung Tarung. Anda akan diterima dengan ramah oleh masyarakat lokal begitu Anda memasuki kampung ini.

Di sini Anda juga akan menemukan sederet kerajinan tangan khas ibu-ibu yang dapat dibeli sebagi cindera mata. Atau anda juga bisa berinteraksi dengan komunitas dan bermain dengan anak-anak di kampung. Sebagai informasi, berhati-hatilah saat melangkah dan mengambil foto di tempat ini. Sebaiknya meminta izin dulu saat ingin melewati tempat tertentu. Saat ini Kampung Tarung sedang direhabilitasi paska bencana kebakaran yang menghanguskan puluhan rumah adatnya pada tanggal 7 Oktober 2017.

Kampung Adat Prai Ijing

Kampung adat Prai Ijing terletak tidak jauh dari pusat kota Waikabubak, berjarak 3 km. Kampung ini dibangun di atas bukit sehingga ketika Anda ingin menuju kampung ini, Anda akan melewati jalan berliku dan menanjak. Anda juga bisa menelusuri lorong-lorong kampung sambil melihat hasil karya masyarakat lokal atau bisa ikut belajar membuat kerajinan khas Sumba. Dan jika berminat, Anda dapat membelinya sebagai cindera mata. Anda juga bisa menginap di rumah penduduk untuk merasakan kehidupan sehari-hari sebagai orang Sumba.

Sambil menelusuri jejak budaya Sumba, disini Anda juga dapat berkercengkrama dengan warga lokal sambil menyantap sirih pinang dan secangkir kopi panas.

Pantai Wanukaka

Selain menyuguhkan pasir panjang sejauh mata memandang, pantai Wanukaka adalah lokasi pelaksanaan ritual Pasola, penangkapan Nyale (cacing laut) dan sesudahnya atraksi Pasola pantai di pagi hari, lalu kemudian dilanjutkan dengan Pasola di lapangan terbuka yang tidak jauh dari pantai ini.

Dalam perjalanan menuju pantai Wanukaka, Anda akan disuguhkan hamparan sawah di kiri-kana jalan, kuda dan kerbau yang merumput dan aktivitas keseharian masyarakat lokal. Pantai ini terletak di  desa nelayan Waihura, yang saban hari menyediakan ikan segar, sehingga Anda dapat menikmati ikan bakar sambil memanjakan mata dan menikmati suasana pantai.

Di sekitaran pantai ini tersedia homestay sederhana milik warga yang dapat disewa jika Anda ingin menghabiskan malam di pantai Wanukaka. Saat ke sini sebaiknya Anda membawa uang tunai, sebab tanpa ada fasilitas pengambilan uang.

Kampung Padabar

Di kampung Padabar terdapat 10 rumah dimana setiap rumah memiliki fungsi yakni tempat memutuskan urusan adat, sembahyang, berdiskusi, sembelih hewan kurban, pengaturan strategi perang serta peruntukan bagi kabisu / suku dan individu tertentu.

 

Bagi Anda peminat budaya, kampung Padabar tentu menarik diteliti. Keramahan masyarakat setempat ditambah dengan atmosfir keindahan alamnya yang masih asri nan hijau semakin menjadikan kampung ini sayang untuk dilewatkan. Hawa sejuk yang senantiasa menaungi kampung ini menambah rasa nyaman Anda berkunjung ke kampung ini.

Kampung Adat Deri Kambadjawa

Anda akan dimanjakan dengan keindahan rumah-rumah adat tradisional beratap alang dan aktivitas kehidupan masyarakat tradisional Sumba Tengah. Disamping keindahan alam disekitarnya yang masih alami dan terjaga dengan baik, menjadikan kampung Adat Deri Kambadjawa obyek wisata yang wajib anda kunjungi di Sumba Tengah.

Nuansa mistis kepercayaan Marapu sangat terasa di kampung Adat Deri Kambadjawa, dimana terdapat beberapa spot keramat seperti kubur-kubur batu yang tidak bisa disentuh dan langkahi, balai-balai rumah yang hanya bisa diduduki serta tempat-tempat penyembahan Marapu. Dikampung ini pula pada pertengahan September hingga awal Oktober setiap tahunnya diadakan ritual adat Purung Ta Liang Marapu, sebuah ritual yang ditandai dengan pencucian barang-barang keramat seperti tambur yang terbuat dari kulit manusia, bejana keramat yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit kusta dan penyakit kulit lainnya, tombak, gong besar berusia ratusan tahun, periuk dari tanah liat, sendok masak dari kayu dan piring dari tempurung kelapa.

Kampung Kabonduk

Akses jalan beraspal lurus dan letaknya ditengah kota menjadikan kampung Kabonduk sangat mudah untuk dikunjungi dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Keramahan masyarakat setempat menjadikan kampung Kabonduk nyaman untuk dikunjungi para wisatawan.

Di kampung Kabonduk Anda akan menjumpai batu kubur raja Umbu Sappi Pateduk yang terkenal dengan nama Watu Raihi Moni, dimana bagian depannya dihiasi Kadu Watu (menhir) dengan ukiran gambar yang sangat unik. Sebagai kampung raja Anakalang, Anda dapat memperoleh cerita tentang histori, budaya dan perkembangan kerajaan Anakalang dari masa lampau hingga saat ini. Dikampung ini pula kita Anda dapat melihat benda-benda keramat seperti gong, tambur dan Tombak Mehang Karaga sebagai salah satu tombak yang digunakan dalam upacara adat Purung Ta Kadonga Ratu.

Kampung Pasunga

Terletak di pusat kota Waibakul. Kampung dengan rumah – rumah adat Sumba semi modern ini menyuguhkan keindahan kampung adat yang mampu bersinergi dengan kemajuan peradaban masa kini. Anda bisa melihat batu – batu kubur megalitik yang berusia puluhan tahun dengan ukiran – ukiran khas Sumba yang bernilai seni tinggi dan kaya makna. Salah satu batu kubur yang terkenal adalah batu kubur “Umbu Puda”. Diatas batu kubur ini terdapat 2 ruangan tempat bersemayamnya 2 kakak beradik “Umbu Puda dan Umbu Kaledi”.
Didepan batu kubur ini didirikan satu batu persegi panjang dengan tinggi 3 meter yang disebut “Kadu Watu” (Menhir) yang diukir dengan ornament menarik (Ana Tau). Batu kubur ini semakin melengkapi pesona kampung adat Pasunga.

Kampung Lai Tarung

Untuk mencapai kampung Lai Tarung harus berjalan kaki melewati jalan menanjak, dengan jarak tempuh 20 menit dari kampung Kabonduk. Kampung Lai Tarung terkesan terasing dari dunia luar. Keaslian kehidupan tradisional sangat terasa di kampung ini. Hanya terdapat beberapa buah rumah yang terpisah antara satu dengan yang lainnya. Berbagai kubur batu dengan berbagai bentuk terdapat di kampung ini.

Di ujung kampung terdapat 2 buah bangunan tempat pelaksanaan ritual adat “Purung Ta Kadonga Ratu”, yakni rumah kilat tempat dilakukan ritual adat oleh para tetua adat (Rato) dan rumah pertemuan berbagai kabisu (suku).

Keunikan lain yang dimiliki kampung Lai Tarungadalah adanya sebuah tambur kuno yang berasal dari kulit manusia. Menurut cerita yang diwariskan turun temurun, kulit tambur itu adalah kulit musuh yang berhasil di bunuh pada suatu pertempuran. Suasana kampung yang asri dengan bangunan berarsitektur Sumba menggambarkan pola kehidupan yang mengandung nilai-nilai historis dan budaya yang tetap terjaga keberadaannya. Kampung Lai Tarungtelah masuk menjadi salah satu Cagar Budaya Nasional.